Tampilkan postingan dengan label sentilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sentilan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Fenomena 'Coke Bottle'

Sudah lama saya menantikan video klip 'Coke Bottle'. Penasaran dengan video klip Agnez Mo yang katanya mengguncang jagad MTV di negeri Paman Sam itu. Saya bukan penggemar fanatik Agnez Mo, tapi membayangkan kualitas suara dan koreografi Agnez Mo membuat saya bersemangat menjelajah dunia youtube. 

Tapi nyatanya, saya kecewa berat, terheran-heran. Jika boleh berpendapat, rasanya tidak ada Agnez Mo di lagu dan video itu. Apakah demi go international, identitas diri harus ditanggalkan dan menggantinya dengan tren yang berkembang di negeri orang?

Lalu, saya tergelitik untuk mengutak-atik frasa 'Agnez Mo go international'. Dengan kasus yang sama, bagaimana jadinya kalau kata Agnez Mo digantikan dengan 'orang Indonesia' atau 'arsitektur Indonesia' atau 'fashion Indonesia' atau masih banyak lagi.   

Bagaimanapun juga, saya tidak bermaksud menghakimi apa yang dipilih oleh Agnez Mo karena saya hanya melihat dari salah satu perspektif. Perspektif ke-nusantaraan. 

Jika boleh berpendapat, di bidang apapun akan lebih bermakna jika memilih go international dengan rasa Indonesia. Nusantara memiliki beragam potensi keberagaman kultur, budaya, seni dan nilai yang layak untuk terus dikembangkan. Justru dengan keunikan identitas yang tidak dimiliki bangsa lain inilah yang akan menjadi daya tarik manusia Indonesia. 
 
Nusantara bagaikan baju dan sikap yang akan selalu merepresentasikan manusia Indonesia. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Baju tanpa sikap hanya akan menyisakan tampilan visual tanpa menampilkan jiwa nusantara. Sikap tanpa baju hanya akan memberi kesan dangkal dan terlupakan karena tampilan visual adalah yang paling mudah direkam. Maka dari itu, dalam setiap pilihan dan langkah, baju dan sikap hendaklah tetap melekat sebagai identitas diri. 

Memang, sering kali kita merasa rumput tetangga nampak lebih hijau. Bisa jadi memang seperti itu, karena kita tidak pernah merawat rumput kita sendiri. Tambahkan saja 'sedikit' kepekaan dan kebanggaan akan nusantara ini. Karena meskipun hanya 'sedikit' namun jika dilakukan oleh banyak orang, maka seyogyanya nusantara dan bangsa ini akan tetap menjadi bangsa yang besar.

Seandainya malam ini masih punya tenaga untuk keluar dari kamar kos, saya akan pilih brem Bali ketimbang coke bottle untuk menemani melanjutkan lanturan berikutnya. hmm.



Minggu, 03 November 2013

JOGJA UNTUK SIAPA ?



Hiruk pikuk Yogyakarta sebagai kota budaya dengan Kraton Yogyakarta sebagai simbolnya tidak pernah surut. Terakhir, Yogyakarta disibukkan dengan pernikahan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu, putri keempat Sultan Hamengkubuwono X. Namun nampaknya keriuhan Yogyakarta tidak berhenti sampai di area kraton saja. Jika kita membuka mata lebih lebar, samar-samar terlihat aksi beberapa komunitas masyarakat dalam mengkritisi arah pembangunan Yogyakarta.
Beberapa waktu lalu, sekelompok seniman dan musisi menggelar aksinya dalam vox populi vox polis (swara warga swara kota). Aksi yang merupakan bagian dari Festival Seni Mencari Haryadi ini digelar di depan rumah Dinas Walikota Kota Yogyakarta dan diikuti oleh puluhan warga dari beragam profesi. Salah satu isu yang diangkat dalam aksi ini adalah kritik atas menjamurnya pembangunan hotel dan mall di Yogyakarta.

Sebelumnya, kritik juga dilakukan oleh sekelompok seniman jalanan dengan muralnya ‘JOGJA ORA DIDOL’ (Jogja tidak dijual). Muhammad Arif, sang seniman, harus ditangkap satpol PP karena aksinya tersebut. Bahkan, seorang hacker tak mau ketinggalan dalam menyuarakan kegelisahannya. Salah satu homepage situs real estate di Yogyakarta diubah menjadi halaman tempat menuangkan curahan hatinya akan arah pembangunan Yogyakarta.
Tidak heran jika gelombang kritik dari warga Yogyakarta semakin gencar. Jika melihat ke belakang, dalam setiap upaya pembangunan mall di Yogyakarta, selalu ada upaya resistensi dari warga sekitar dan komunitas di Yogyakarta. Salah satunya adalah pembangunan Ambarukmo Plaza yang menggusur SD Ambarukmo dan merusak situs bersejarah Gandok Tengen. Namun saat itu, upaya penolakan tidak berhasil dan pembangunan tetap dilanjutkan.
Alasan ekonomi selalu menjadi senjata utama dalam meloloskan perijinan pembangunan mall. Pembangunan mall diklaim dapat meningkatkan perekonomian Yogyakarta. Di satu sisi, pembangunan mall tentu akan menaikkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Namun  di sisi lain, jika melihat lebih cermat, perputaran uang di tingkat mall jelas hanya berkutat di area kelas menengah ke atas. Retail-retail berskala nasional maupun internasional siap bersaing memuaskan pembeli dengan label lifestlyle nya masing-masing.
Sebuah ironi, karena justru pasar tradisional yang menjadi denyut nadi masyarakat Yogyakarta setiap harinya tak kunjung tersentuh program revitalisasi secara menyeluruh. Program revitalisasi yang telah dilakukan baru menyentuh tahap renovasi dan aspek fisik saja. Perbaikan sistem infrastuktur, sistem pasar hingga aspek kebersihan belum tersentuh program ini. Ditambah lagi dengan pembangunan mall yang hadir dengan segala kenyamanan, kemewahan dan kemudahannya. Bukan tidak mungkin keberadaan pasar tradisional akan semakin terhimpit.  Lantas, untuk meningkatkan perekonomian siapakah pembangunan mall besar-besaran di Yogyakarta?  
Yogyakarta merupakan rumah bagi para penggiat seni dan budaya. Mulai dari penggiat seni tradisional, lukis, musik, teater, seni kontemporer  hingga komunitas kreatif, hidup di kota ini. Selama ini, kegiatan seni dan budaya hanya terfokus di area titik nol kilometer dan kompleks Taman Budaya. Sulit rasanya, menemukan alternatif ruang terbuka publik lain yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas komunitas seni dan budaya.
Bisa dibayangkan, begitu indahnya jika satu saja lahan yang kini akan atau telah dibangun mall diganti peruntukkannya untuk ruang terbuka publik. Selain menambah area hijau kota, ruang terbuka publik juga berpotensi menjadi tempat bertemunya berbagai komunitas dari semua kalangan. Berbagai aktivitas warga kota mulai dari berolahraga, berpentas seni budaya, atau sekedar menikmati kuliner khas Yogyakarta sangat mungkin terjadi.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan budaya hidup modern semakin besar. Namun, jika sampai terlena, bisa jadi generasi muda mendatang akan semakin lupa akan akar budayanya. Jangan heran jika (kelak) generasi muda Yogyakarta lebih memilih kongkow dan hura-hura ketimbang menggeluti seni dan budaya aslinya. Lantas, untuk kepentingan siapakah pembangunan mall besar-besaran lengkap dengan label modern lifestyle – nya ?
Masih banyak beragam permasalahan pelik yang berpotensi muncul dengan bertambahnya pembangunan mall ini. Salah satunya, permasalahan kemacetan yang siap tersebar ke setiap sudut kota. Berapa banyakkah bangunan komersial seperti mall yang siap menyediakan lahan parkir yang layak dan asrama bagi karyawannya ? Karena pada kenyataannya, sumber terbesar kemacetan di area mall terjadi karena tumbuhnya parkir liar dan bertambahnya arus urbanisasi.     
Tak akan selesai rasanya jika terus mengurai permasalahan pembangunan ini. Saatnya membuat keputusan, ingin diam saja menjadi penonton atau bertindak meskipun kecil pengaruhnya. Semoga Yogyakarta selalu berhati nyaman. Berhati nyaman bagi warganya dan bagi masyarakat Indonesia.

Kamis, 05 September 2013

Bali Tolak Reklamasi !

Gonjang ganjing rencana reklamasi teluk benoa yang masih dalam wilayah konservasi.....